Jesus vs Pop Culture

Hari Sabtu kemaren my and Hana berkesempatan untuk dateng ke gathering workers JPCC. Kali ini mereka mendatangkan Rev. Khong Hee from City Harvest Church in Singapore. Kali ini tema yang diangkat oleh Rev. Khong Hee adalah mengenai pop culture and bagaimana gereja seharusnya mempengaruhi dunia melalui gayanya yang relevan dengan dunia ini.

Pop Culture sendiri adalah budaya2 yang mempengaruhi masyarakat serta membentuk sesuatu yang disebut sebagai “society”. Budaya ini [well sebenarnya sigh kurang cocok untuk disebut budaya] adalah musik, iklan, selebrity, film, sport, entertainment, fashion, seni/art [arsitektur,puisi,pahatan,etc].  Ini semua mempengaruhi kebudayaan dalam suatu society. Disini masalahnya; gereja cenderung untuk bersikap konservatif atau kalau bukan disebut antipati terhadap semua hal diatas; . Alasan yang paling sering disebut adalah karena hal tersebut sering membuat manusia jatuh ke dalam dosa and bersumber dari iblis. Karena itu greja cenderung untuk menghindari bersentuhan dengan budaya di atas yang disebut sebagai “Pop Culture.” By doing this, gereja kehilangan potensinya untuk memberitakan Jesus sebagai juruselamat,  Kenapa begitu ?? Jawabnya adalah gereja menjadi tidak relevan atau bahkan cenderung dipandang aneh bagi orang yang tinggal di dunia ini, serta tidak memberi dampak apa2.

Mari kita bayangkan [just an imangination]; apa yang terjadi bila Michael Jackson, Marilyn Monroe, Bill Gates, BaRrack Obama, etc benar2 seorang Kristiani sejati. Dunia pasti bisa berubah secara radikal ke arah yang lebih baik, kenapa? Karena mereka bisa disebut memberi pengaruh bagi banyak orang, orang2 mengidolakan, meniru, berharap menjadi seperti mereka. Contohnya nyata adalah “KAKA” seorang pemain klub AC Milan yang juga sangat Kristen dia membawa pengaruh bagi gerejanya. Kenapa ?? Karena dia mengakui bahwa Jesus sebagai sumber kreatifitasnya dalam bermain bola and resultnya gereja tempat dia berada menjadi penuh dengan jemaat. [sumber Koran TEmpo].

Di Alkitab [Kong Hee] says; ada banyak tokoh yang menjadi serupa dengan dunia , tapi tetap disebut bahwa mereka adalah orang yang suci. Daniel dia belajar budaya kebudayaan Babylonia, bahkan menjadi pemimpin dari para ahli nujum, penyihir, ahli astrologi, mengenal budaya2 yang najis di mata orang Yahudi tetapi tetap suci.  Yusuf menjadi serupa dengan bangsa Mesir, bahkan saudara kandungnya tidak mengenali dia lagi sebagai adik mereka. Yet dia adalah orang beriman di Alkitab.  Pointnya disini adalah menjadi serupa dengan dunia bukan berarti mengadopsi nilai2 dari dunia tetapi tetap berpegang pada firman Allah dengan tampilan luar [packaging] yang serupa dengan dunia ini. Bentuk packaging luar berubah serupa dengan jaman dimana kita ada and ditempatkan tapi berita keselamatan tetap sama yaitu bahwa Yesus adalah jalan keselamatan dan hidup. Ini bisa dilakukan apabila core muscle [baca Iman] kita sebagai orang Kristiani telah dewasa dan kuat. Kita menjadi serupa dengan Kristus bukan hanya tampilan luar saja melainkan keluar secara nyata dari kepribadian. Enggak gampang emang, karena kita harus berlatih tiap hari untuk menguatkan core muscle kita ini. But the key is to read the bible more often, find a revelant church, pray and have a comunity Kristen yang sama2 menajamkan satu sama lain.

Act Now [Hehehehe; berlaku buat g juga]  karena ladang sudah menguning dan siap dituai. Kerajaan Allah sudah lebih dekat daripada sebelumnya [Coming Soon].

 

Ungkapkan pendapat Anda